Review Jujur Film Bioskop Berjudul The War Between
Review Jujur Film Bioskop Berjudul The War Between. The War Between, film western indie garapan Deborah Correa yang rilis September 2025, lagi jadi pembicaraan karena pendekatan uniknya soal Perang Saudara Amerika di wilayah barat yang jarang dieksplor. Berlatar Arizona Territory 1862 pasca Battle of Picacho Peak (pertempuran terbarat Perang Saudara), review film ini ikuti dua tentara lawan—Union soldier amnesia (Damian Conrad-Davis) dan Confederate deserter (Sam Bullington)—yang terdampar di gurun dan harus kerjasama survive, sambil hadapi Apache dan demon dalam diri. Durasi 97 menit, shot full di Arizona dengan crew lokal, rating IMDb 7.2 dan pujian atas cinematography. Review jujur: thoughtful dan visually stunning, tapi pacing lambat bikin nggak semua orang betah.
Plot dan Gaya Sutradara Film The War Between
Cerita sederhana tapi dalam: dua musuh terpaksa bergantung satu sama lain di gurun Sonoran yang unforgiving—haus, panas, Apache, dan bigotries masing-masing. Ada elemen Native American (dengan konsultasi Navajo/Apache), bikin narasi lebih kompleks soal siapa “musuh” sebenarnya. Correa, debut feature-nya, pilih gaya slow-burn: dialog minim, fokus visual landscape luas dan close-up emosi karakter. Cinematography Even Jake Cohen tangkap saguaro cactus, langit biru terang, dan debu gurun dengan indah—bikin terasa big budget meski indie.
Ini bukan western action penuh tembak-menembak; lebih character study soal humanity di tengah perang. Twist ringan soal memory dan trust, tapi klimaks lebih ke konfrontasi ideologi daripada shootout besar. Script Ron Yungul tajam di dialog tentang rasisme dan perang, tapi kadang terasa stagey.
Makna dan Relevansi Saat Ini Film The War Between
Makna utama The War Between ada di “shared humanity” vs divisive ideology: dua soldier dari sisi berlawanan temukan kesamaan di survival, sindir absurditas perang saudara yang bikin saudara bunuh saudara. Film ini timely banget di 2025—saat polarisasi politik AS lagi panas—tanya: bisa nggak kita lihat manusia di balik label “musuh”? Apache sebagai elemen ketiga tambah lapisan: mereka juga korban konflik yang lebih besar.
Correa (female director di genre male-dominated) tekankan empati dan unity, tanpa both-sidesism murahan—kedua karakter flawed, tapi capable change. Pesannya: perubahan mulai dari recognize ourselves in “yang kita benci”. Relevan buat isu sekarang seperti tribalism politik atau konflik etnis.
Kesimpulan
The War Between adalah western thoughtful yang redefine genre dengan fokus humanity dan visual Arizona epik—indie yang terasa besar berkat cinematography dan acting Conrad-Davis serta Bullington yang solid. Meski pacing lambat dan dialog kadang kaku bikin terasa niche, kekuatannya di pesan unity yang timely dan produksi autentik. Skor jujur 7.5/10: recommended buat yang suka slow-burn drama seperti Hell or High Water atau The Power of the Dog—nggak action berat, tapi bikin mikir lama. Di tahun penuh division, ini film yang ingatkan: gurun perang bisa jadi tempat temuin kesamaan.



Post Comment