Review Film Vertigo: Obsesi Hitchcock yang Memusingkan
Review Film Vertigo: Obsesi Hitchcock yang Memusingkan. Vertigo (1958) karya Alfred Hitchcock tetap jadi salah satu film paling memengaruhi dan membingungkan dalam sejarah sinema. Disebut-sebut sebagai masterpiece Hitchcock yang paling rumit, film ini menggabungkan thriller psikologis, noir, dan elemen romansa obsesif menjadi pengalaman yang benar-benar memusingkan kepala—secara harfiah dan kiasan. Dengan teknik inovatif seperti dolly zoom yang kini dikenal sebagai “Vertigo effect”, serta narasi yang penuh twist, film ini terus diakui sebagai salah satu karya terbesar abad ke-20, bahkan sempat menduduki peringkat pertama Sight & Sound poll pada 2012.
Alfred Hitchcock, yang saat itu sudah jadi raja suspense Hollywood, mengadaptasi novel D’entre les morts karya Pierre Boileau dan Thomas Narcejac menjadi Vertigo. Dibintangi James Stewart sebagai detektif pensiun Scottie Ferguson dan Kim Novak sebagai Madeleine Elster/Judy Barton, film ini tayang perdana 9 Mei 1958. Meski awalnya mendapat respons campur aduk dan box office biasa saja, Vertigo lambat laun diakui sebagai karya agung. Pada 1989, Library of Congress memasukkannya ke National Film Registry karena “signifikansi budaya, historis, dan estetika”. Saat ini, ia sering disebut film Hitchcock paling personal—menggambarkan obsesi pria terhadap wanita ideal yang tak pernah benar-benar ada. REVIEW FILM
Alur Cerita yang Penuh Lapisan dan Twist
Cerita dimulai dengan Scottie Ferguson, mantan detektif polisi San Francisco yang menderita akrofobia (takut ketinggian) setelah insiden tragis. Ia diminta teman lamanya Gavin Elster untuk menguntit istrinya Madeleine yang diduga kerasukan roh nenek moyangnya Carlotta Valdes dan punya kecenderungan bunuh diri. Scottie mengikuti Madeleine ke berbagai lokasi ikonik San Francisco—seperti misi San Juan Bautista, Fort Point, dan Muir Woods—sambil jatuh cinta padanya. Setelah Madeleine “bunuh diri” dengan melompat dari menara gereja, Scottie hancur dan kemudian bertemu Judy Barton, wanita yang mirip sekali dengan Madeleine.
Di sinilah twist besar muncul: Judy sebenarnya adalah Madeleine yang dibuat-buat oleh Gavin untuk menutupi pembunuhan istrinya yang asli. Scottie, terobsesi dengan Madeleine, memaksa Judy mengubah penampilan—rambut pirang, baju, makeup—sampai ia benar-benar “menghidupkan kembali” Madeleine. Obsesi ini berujung pada tragedi akhir di menara yang sama, di mana Scottie akhirnya mengatasi ketakutan ketinggiannya, tapi kehilangan segalanya.
Hitchcock membangun ketegangan perlahan melalui perspektif Scottie, membuat penonton ikut merasakan spiral obsesi dan ilusi. Narasi tak linear, flashback, dan mimpi sekuel yang surealis menambah rasa disorientasi yang disengaja.
Teknik Sinematografi dan Pengaruh yang Abadi: Review Film Vertigo: Obsesi Hitchcock yang Memusingkan
Salah satu inovasi terbesar adalah “Vertigo zoom” atau dolly zoom—kamera mundur sambil zoom in—yang menciptakan ilusi distorsi visual saat Scottie panik karena ketinggian. Teknik ini kini jadi standar di banyak film thriller dan horor. Bernard Herrmann menyumbang skor orkestra yang menghantui, terutama motif “Scene d’Amour” yang intens dan romantis sekaligus mencekam.
James Stewart, biasanya pahlawan ramah, tampil gelap dan unsettling sebagai pria yang kehilangan akal sehat karena obsesi. Kim Novak brilian memerankan dua peran dalam satu tubuh—Madeleine yang misterius dan Judy yang rentan—menunjukkan kerapuhan dan manipulasi. Warna hijau yang dominan (pada gaun Judy, neon hotel) jadi simbol ilusi dan kecemburuan.
Film ini juga kaya simbolisme: spiral (rambut Madeleine, tangga menara, jalan lingkaran di taman), warna merah (darah, bunga, gaun), dan motif jatuh yang berulang. Hitchcock menggunakan San Francisco sebagai latar yang sempurna—jembatan Golden Gate, Coit Tower—untuk memperkuat rasa vertigo emosional.
Kesimpulan: Review Film Vertigo: Obsesi Hitchcock yang Memusingkan
Vertigo adalah obsesi Hitchcock yang paling memusingkan karena ia tak hanya tentang misteri pembunuhan, tapi tentang bagaimana pria menciptakan wanita ideal dalam pikirannya, lalu menghancurkannya saat realitas tak sesuai. Film ini menggali sisi gelap cinta, identitas, dan kontrol—tema yang tetap relevan hingga kini. Meski lambat dibanding thriller Hitchcock lain seperti Psycho atau North by Northwest, justru itulah kekuatannya: membiarkan penonton terperangkap dalam spiral psikologis yang sama seperti Scottie. Bagi penggemar sinema klasik, Vertigo adalah pengalaman wajib—indah, mencekam, dan tak terlupakan. Satu kali tonton mungkin cukup membuat kepala pusing, tapi itulah keajaibannya.



Post Comment