Review Film Surga yang Tak Dirindukan

Review Film Surga yang Tak Dirindukan

Review Film Surga yang Tak Dirindukan. Film Surga yang Tak Dirindukan yang dirilis pada 2015 kembali menjadi sorotan di awal 2026. Drama romantis religius ini sering ditayangkan ulang di platform digital dan televisi, membangkitkan nostalgia serta diskusi tentang poligami dan pengorbanan dalam rumah tangga. Diadaptasi dari novel bestseller karya Asma Nadia, film ini sukses fenomenal dengan lebih dari 1,5 juta penonton saat pertama tayang, menjadikannya salah satu film Indonesia terlaris tahun itu. Kini, kisah Pras, Arini, dan Meirose masih menyentuh hati, terutama bagi penonton yang menyukai cerita mendalam tentang cinta dan iman. BERITA BOLA

Plot dan Karakter Utama: Review Film Surga yang Tak Dirindukan

Cerita berpusat pada Pras, arsitek sukses yang bahagia menikah dengan Arini dan memiliki seorang putri. Suatu hari, Pras menyelamatkan Meirose, wanita hamil di luar nikah yang putus asa hingga mencoba bunuh diri. Demi menyelamatkan nyawa Meirose dan bayinya, Pras menikahinya secara diam-diam tanpa sepengetahuan Arini. Konflik memuncak saat rahasia terbongkar, membuat rumah tangga ideal Pras dan Arini runtuh, diwarnai pengorbanan, penyesalan, dan perjuangan mempertahankan keluarga.

Fedi Nuril memerankan Pras dengan nuansa kompleks, pria taat yang terjebak dilema moral. Laudya Cynthia Bella sebagai Arini tampil kuat dan emosional sebagai istri setia, sementara Raline Shah sebagai Meirose membawa kerapuhan yang menyentuh. Karakter pendukung seperti orang tua dan teman menambah kedalaman konflik keluarga. Chemistry ketiga pemeran utama terasa intens, membuat penonton ikut merasakan pahit manisnya keputusan berat.

Elemen Religius dan Emosional: Review Film Surga yang Tak Dirindukan

Surga yang Tak Dirindukan unggul dalam mengangkat tema poligami dari perspektif Islam, tanpa menggurui tapi penuh refleksi tentang keadilan, kesabaran, dan pengorbanan. Film ini menyoal batas cinta dalam rumah tangga, serta dampak rahasia terhadap keharmonisan keluarga. Adegan emosional seperti pengakuan dan penerimaan takdir menjadi momen kuat yang sering membuat penonton haru.

Disutradarai Kuntz Agus, karya ini menyajikan tempo lambat tapi mendalam, diperkuat sinematografi sederhana yang fokus pada ekspresi karakter. Soundtrack menyentuh hati memperkuat nuansa religius, membuat cerita terasa relatable bagi yang pernah menghadapi ujian rumah tangga.

Kelebihan dan Kritik

Film ini dipuji karena kesetiaan pada novel, performa aktor yang meyakinkan, serta pesan moral yang relevan hingga kini. Banyak penonton terharu dengan akhir bittersweet dan representasi konflik rumah tangga yang realistis. Kesuksesan box office serta berbagai nominasi penghargaan membuktikan dampaknya sebagai drama religius berkualitas.

Di sisi lain, beberapa kritik menyebut penggambaran poligami terlalu idealis, karakter Pras kadang kurang konsisten, serta durasi panjang membuat sebagian adegan terasa berlarut. Isu sensitif ini dinilai belum dieksplor sepenuhnya, membuat sebagian penonton merasa cerita agak dipaksakan. Meski begitu, kekurangan ini tak mengurangi nilai sebagai film inspiratif.

Kesimpulan

Surga yang Tak Dirindukan tetap jadi ikon drama religius Indonesia yang abadi di awal 2026 ini. Kisah Pras dan Arini mengingatkan bahwa rumah tangga seperti surga yang harus dijaga, meski penuh ujian tak terduga. Dengan akting brilian dan pesan mendalam tentang pengorbanan, film ini layak ditonton ulang untuk merenungkan arti keadilan dalam cinta. Secara keseluruhan, ini adalah mahakarya yang berhasil menyentuh jutaan hati, cocok bagi siapa saja yang ingin cerita emosional penuh makna religius.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment