Review Film Rambo: First Blood

Review Film Rambo: First Blood

Review Film Rambo: First Blood. Film Rambo: First Blood arahan Ted Kotcheff yang rilis pada 1982 tetap jadi salah satu action drama paling berpengaruh hingga 2026, terutama sebagai asal-usul karakter John Rambo yang ikonik. Dibintangi Sylvester Stallone sebagai veteran Vietnam yang trauma, film ini raup lebih dari 125 juta dolar dunia dari budget 15 juta, dan jadi pembuka franchise lima film. Dengan durasi 93 menit penuh ketegangan, First Blood bukan action biasa—ia kritik perlakuan buruk terhadap veteran perang dan dampak PTSD. Berbeda dari sekuel yang lebih eksplosif, film pertama ini lebih fokus drama psikologis dan survival. Review ini bahas kenapa First Blood masih layak ditonton ulang sebagai klasik yang dalam tapi menghibur. BERITA BASKET

Karakter Rambo dan Kritik Sosial: Review Film Rambo: First Blood

John Rambo digambarkan sebagai veteran Green Beret yang pulang dari Vietnam tapi tak diterima masyarakat. Ia hanya ingin makan dan istirahat di kota kecil, tapi diprovokasi polisi lokal dipimpin Sheriff Teasle (Brian Dennehy) yang anggap dia pengemis. Rambo ditangkap, disiksa, dan akhirnya kabur ke hutan—lawan seluruh departemen polisi dengan skill survival dan guerrilla warfare. Stallone mainkan Rambo bukan sebagai mesin bunuh, tapi pria rusak yang trauma: flashback Vietnam, monolog akhir tentang teman mati di perang, dan tangis saat menyerah. Karakter ini simbol veteran yang ditinggalkan negara—kritik tajam atas perlakuan buruk pasca-Vietnam. Teasle dan deputinya bukan villain kartun, tapi orang biasa yang tak paham trauma perang. Monolog Rambo akhir—”Back there I could fly a gunship, I could drive a tank… but here I can’t even hold a job parking cars”—jadi salah satu momen paling emosional di action 80-an.

Aksi Survival dan Sinematografi Hutan: Review Film Rambo: First Blood

Aksi di First Blood lebih ke survival daripada ledakan seperti sekuel. Rambo lawan polisi dan National Guard di hutan Pacific Northwest dengan jebakan buatan sendiri—lubang berduri, tali jebak, dan senjata improvisasi. Adegan kejar-kejaran di tebing curam, Rambo lompat dari pohon, atau lawan anjing pelacak terasa realistis dan tegang. Ted Kotcheff pakai wide shot hutan lebat untuk beri rasa isolasi dan claustrophobia, kontras dengan kota kecil yang “aman”. Stunt praktis Stallone—jatuh dari tebing, lari telanjang dada di hujan—tambah autentisitas. Skor Jerry Goldsmith dengan synth minimal dan motif gitar akustik beri nuansa kesepian tapi heroik. Kritik kadang bilang aksi terlalu lambat dibanding sekuel, tapi justru itu yang buat film ini beda—fokus ketegangan psikologis daripada carnage.

Warisan dan Relevansi Saat Ini

First Blood sukses karena ubah citra action dari macho tanpa otak jadi drama dengan pesan sosial. Pengaruh ke film seperti The Deer Hunter atau Born on the Fourth of July di tema veteran trauma. Stallone performa karir awal jadi ikon Rambo—simbol pria tangguh tapi rusak. Film ini menang Golden Globe nominasi dan jadi franchise miliunan dolar, meski sekuel lebih ke action berlebih. Di 2026, saat isu veteran mental health masih relevan, First Blood terasa lebih dalam daripada sekuel. Rating Rotten Tomatoes 85% kritikus dan 87% audience tunjukkan daya tahan—film yang kritik perang tanpa propaganda. Ia jadi inspirasi karakter lone wolf seperti John Wick atau Jason Bourne. Kritik atas kekerasan atau ending ambigu (Rambo menyerah atau mati di novel) tak kurangi kekuatan pesan utama: veteran layak dihormati, bukan diusir.

Kesimpulan

Rambo: First Blood 1982 adalah action drama masterpiece yang gabungkan survival intens, kritik sosial terhadap veteran, dan performa Stallone yang emosional dengan cerita sederhana tapi mendalam. Ted Kotcheff ciptakan film yang tak hanya thrill, tapi bikin mikir tentang harga perang dan trauma yang dibawa pulang. Di usia lebih dari 40 tahun, tetap fresh sebagai film pertama terbaik di franchise—bukan karena ledakan, tapi karena hati di balik kekerasan. Bagi penggemar action klasik atau drama perang, First Blood wajib rewatch—film yang buat Rambo jadi legenda abadi. Ia ingatkan bahwa pahlawan perang sering pulang sebagai orang asing di tanah sendiri. Klasik yang tak lekang waktu, bukti 80-an punya action dengan jiwa.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment