Review Film Peninsula

review-film-peninsula

Review Film Peninsula. Film Peninsula yang dirilis pada 2020 menjadi sekuel spiritual dari Train to Busan yang fenomenal. Disutradarai lagi oleh Yeon Sang-ho, cerita ini berlatar empat tahun setelah wabah zombie menghancurkan Semenanjung Korea. Kang Dong-won berperan sebagai Jung-seok, mantan tentara yang kembali ke zona karantina untuk misi ambil uang dolar, bersama tim bayaran. Dengan durasi 116 menit, Peninsula beralih dari ruang sempit kereta jadi aksi skala besar di kota mati, penuh mobil kejar-kejaran dan tembak-menembakan. Meski tak se-emotional pendahulunya, film ini tetap jadi blockbuster zombie Korea dengan efek visual megah dan adrenalin tinggi, sukses tarik jutaan penonton meski tayang di masa pandemi. MAKNA LAGU

Plot yang Penuh Aksi dan Skala Besar: Review Film Peninsula

Cerita dimulai di Hong Kong, di mana pengungsi Korea hidup susah pasca-wabah. Jung-seok terima misi berbahaya: masuk ke Seoul yang dikuasai zombie untuk ambil truk berisi 20 juta dolar, dengan janji bagi hasil. Saat tim tiba, misi langsung chaos—zombie lebih ganas, ditambah kelompok manusia gila yang jadikan arena pertarungan seperti gladiator. Plot berfokus pada aksi survival skala besar: kejar-kejaran mobil malam hari, tembakan tanpa henti, dan penyelamatan dramatis. Yeon Sang-ho ubah tone dari horror emosional jadi action thriller ala Mad Max dengan zombie, lengkap dengan twist tentang kelompok survivor kecil yang masih bertahan. Meski ada momen lambat di tengah, klimaks penuh ledakan dan kejaran bikin penonton puas adrenalin.

Karakter yang Solid dan Performa Aktor: Review Film Peninsula

Kang Dong-won sebagai Jung-seok bawa beban trauma masa lalu dengan baik: dari tentara yang gagal selamatkan keluarga jadi pria dingin yang cari penebusan. Lee Jung-hyun sebagai Min-jung, survivor tangguh dengan dua anak kecil, beri energi kuat dan aksi heroik. Koo Kyo-hwan sebagai Sergeant Hwang, antagonis gila yang suka arena zombie, curi perhatian dengan karisma psikopat. Anak-anak seperti Kim Min-jae dan Lee Re tambah lapisan emosional, terutama adegan mengemudi mobil yang lucu sekaligus tegang. Karakter bukan terlalu dalam seperti Train to Busan, tapi cukup relatable untuk bikin penonton peduli nasib mereka di tengah kekacauan. Chemistry tim survivor kecil terasa hangat, kontras dengan kelompok militer gila yang brutal.

Efek Visual Megah dan Kritik Sosial

Peninsula unggul di efek visual: Seoul yang hancur terlihat realistis, zombie bergerombol seperti banjir, dan adegan kejar-kejaran malam dengan lampu mobil jadi highlight spektakuler. Aksi mobil ala Fast & Furious versi zombie terasa segar di genre ini, dengan koreografi yang kreatif dan intens. Di balik ledakan, ada kritik sosial ringan: bagaimana manusia lebih berbahaya daripada zombie—egoisme, pengkhianatan, dan eksploitasi di tengah apocalypse. Tema penebusan dan keluarga tetap ada, meski tak sekuat pendahulunya. Musik tegang dan editing cepat dukung pacing aksi, membuat film ini lebih seperti blockbuster Hollywood dengan sentuhan Korea.

Kesimpulan

Peninsula adalah sekuel aksi zombie yang menghibur dan megah, meski tak mampu ulangi kedalaman emosional Train to Busan. Dengan plot penuh adrenalin, karakter solid, dan visual memukau, film ini sukses jadi tontonan seru untuk pecinta genre post-apocalyptic. Yeon Sang-ho berani ambil risiko ubah formula jadi lebih besar dan brutal, hasilnya pengalaman yang fun meski kurang menyentuh hati. Cocok ditonton saat ingin aksi tanpa henti dan zombie berlarian, Peninsula tetap layak sebagai bagian universe Train to Busan yang ekspansif. Bagi yang suka ledakan, kejaran mobil, dan survival chaos, film ini pasti memuaskan—bukti bahwa zombie Korea masih punya tempat di hati penonton global.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment