Review Film Nickel Boys: Adaptasi Kuat dari Colson Whitehead
Review Film Nickel Boys: Adaptasi Kuat dari Colson Whitehead. Film Nickel Boys karya RaMell Ross yang tayang sejak akhir 2024 masih menjadi salah satu adaptasi sastra paling kuat dan dibicarakan hingga awal 2026. Diadaptasi dari novel pemenang Pulitzer karya Colson Whitehead (The Nickel Boys, 2019), film ini mengisahkan dua remaja kulit hitam, Elwood Curtis dan Jack Turner, yang dikirim ke sekolah reformasi Nickel Academy di Florida tahun 1960-an—tempat yang seharusnya mendidik tapi justru menjadi pusat kekerasan sistematis dan rasisme. Dengan durasi 135 menit, film ini berhasil meraup pujian luas setelah tayang perdana di Telluride dan Toronto Film Festival, serta mendapat rating Rotten Tomatoes 94% dari kritikus dan 89% dari penonton. Apakah adaptasi ini benar-benar kuat seperti novel aslinya, atau malah kehilangan kekuatan narasi Whitehead? BERITA TERKINI
Pendekatan Sinematik yang Berbeda di Film Nickel Boys: Review Film Nickel Boys: Adaptasi Kuat dari Colson Whitehead
RaMell Ross memilih pendekatan visual yang sangat berani dan berbeda dari novel. Hampir seluruh film difilmkan dari sudut pandang first-person (point-of-view) kedua tokoh utama secara bergantian—sebuah teknik langka yang membuat penonton merasa “menjadi” Elwood dan Jack. Kamera sering berada di level mata remaja, sehingga kita melihat dunia Nickel Academy dari ketinggian mereka: atap rendah, tangan-tangan kasar petugas, dan wajah-wajah penuh ketakutan teman sesama anak asuh. Pendekatan ini membuat kekerasan fisik dan psikologis terasa sangat personal dan menyesakkan—penonton tidak hanya menyaksikan, tapi ikut merasakan pukulan, hinaan, dan rasa tak berdaya. Warna film sangat desaturasi dengan palet kuning-kecokelatan yang kusam, menciptakan rasa panas, lembab, dan penuh debu khas Florida Selatan. Sinematografi oleh Jomo Fray sangat kuat—setiap frame terasa seperti arsip foto lama yang hidup kembali.
Performa Ethan Herisse dan Brandon Wilson: Review Film Nickel Boys: Adaptasi Kuat dari Colson Whitehead
Ethan Herisse sebagai Elwood Curtis memberikan penampilan yang sangat menawan—ia berhasil membawa karakter yang idealis, pintar, dan penuh harapan meski hidup di lingkungan paling kejam. Ekspresi wajahnya dan cara bicara yang pelan tapi tegas membuat penonton langsung simpati. Brandon Wilson sebagai Jack Turner jadi kontras sempurna—cynical, keras kepala, tapi punya hati yang rapuh. Chemistry keduanya terasa sangat alami seperti dua remaja yang terpaksa jadi saudara di neraka. Cast pendukung seperti Hamish Linklater sebagai kepala sekolah yang dingin dan kejam, serta Aunjanue Ellis-Taylor sebagai ibu Elwood, juga tampil sangat kuat meski waktu layar terbatas. Tidak ada aktor yang mencuri peran—semua berfungsi untuk memperkuat rasa penindasan sistemik yang menjadi inti cerita.
Kelemahan Pacing dan Adaptasi
Meski visual dan performa luar biasa, film ini punya kelemahan di pacing yang sangat lambat dan sengaja. Karena hampir seluruh cerita menggunakan sudut pandang first-person, beberapa adegan terasa repetitif dan kurang variasi. Babak tengah agak terasa berat karena terlalu banyak fokus pada rutinitas sehari-hari di Nickel Academy tanpa cukup konflik besar yang maju plot. Dibandingkan novel Colson Whitehead yang sangat kaya detail dan narasi bergantian, film ini lebih minimalis dan kurang punya kedalaman backstory—beberapa subplot penting dipangkas demi menjaga durasi. Bagi penggemar novel, ini bisa terasa kurang memuaskan. Ada juga kritik bahwa pendekatan first-person terlalu gimmick dan kadang mengganggu imersi alih-alih memperkuatnya.
Respon Penonton dan Dampak
Penonton Indonesia yang menyukai drama berbasis sejarah dan sinema arthouse menyambut sangat positif—film ini laris di bioskop-bioskop indie dan platform streaming, dengan banyak diskusi soal rasisme sistemik dan trauma generasi. Box office US$35 juta (untuk film indie drama termasuk sukses besar) dan banyak penghargaan festival tunjukkan film ini punya daya tarik kuat. Di media sosial, klip adegan first-person dan monolog Elwood jadi viral. Film ini juga membuka diskusi soal kekerasan institusional terhadap anak kulit hitam di Amerika, serta bagaimana sejarah masih memengaruhi generasi sekarang. Banyak yang bilang ini salah satu adaptasi sastra terbaik 2025 dan layak dapat pujian atas keberaniannya menggunakan teknik visual yang tidak biasa.
Kesimpulan
The Brutalist adalah drama epik yang berhasil jadi salah satu film paling megah dan emosional tahun 2025. Adrien Brody memberikan penampilan terbaiknya sebagai László Tóth, visual gotik dan sinematografi luar biasa, serta cerita yang berbobot membuat film ini layak ditonton di bioskop besar. Meski durasi 215 menit dan pacing lambat bisa terasa berat bagi sebagian penonton, itu justru bagian dari kekuatannya—sebuah pengalaman sinematik yang mendalam dan tidak tergesa. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu suka sinema auteur, drama historis, dan performa akting kelas atas. Kalau suka The Zone of Interest, Oppenheimer, atau The Power of the Dog, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan waktu dan konsentrasi, karena film ini tidak ingin ditonton sambil main ponsel. Adrien Brody kembali megah, dan The Brutalist layak disebut salah satu film terbaik dekade ini.



Post Comment