Review Film Her
Review Film Her. Her tetap menjadi salah satu film paling menyentuh dan visioner dalam genre fiksi ilmiah sejak rilis pada tahun 2013. Hampir 13 tahun kemudian, di awal 2026, ketika interaksi manusia dengan AI percakapan sudah menjadi bagian sehari-hari, film ini terasa seperti cermin yang semakin tajam sekaligus semakin menyakitkan. BERITA BASKET
Cerita berlatar masa depan dekat di Los Angeles yang terasa sangat mirip dengan kota kita sekarang. Theodore Twombly, seorang pria yang sedang melalui perceraian dan kesepian berat, jatuh cinta dengan Samantha—sebuah sistem operasi kecerdasan buatan yang dirancang untuk beradaptasi dengan kebutuhan penggunanya. Apa yang dimulai sebagai hubungan asisten pribadi perlahan berkembang menjadi ikatan emosional yang dalam, penuh keintiman, dan akhirnya pertanyaan besar tentang apa artinya mencintai sesuatu yang bukan manusia.
Visual dan Atmosfer yang Hangat serta Melankolis: Review Film Her
Salah satu kekuatan terbesar Her adalah cara ia membangun dunia yang terasa sangat dekat dengan realitas kita. Warna-warna lembut, oranye dan merah muda yang mendominasi setiap frame, menciptakan suasana hangat sekaligus kesepian. Los Angeles masa depan digambarkan dengan gedung-gedung tinggi, transportasi umum yang rapi, dan orang-orang yang terus-menerus berbicara dengan headset—sesuatu yang sudah sangat familiar sekarang.
Sinematografi yang sengaja fokus pada close-up wajah dan ruang pribadi membuat penonton ikut merasakan kedekatan sekaligus jarak yang ada antara Theodore dan Samantha. Tidak ada efek futuristik berlebihan—tidak ada hologram mencolok atau kota neon yang berlebihan—justru kesederhanaan itulah yang membuat dunia terasa sangat mungkin terjadi. Musik yang lembut dan atmosferik memperkuat rasa melankolis, membuat setiap adegan terasa intim dan pribadi.
Performa Aktor dan Karakter yang Sangat Manusiawi: Review Film Her
Performa utama sebagai Theodore Twombly berhasil membawa karakter yang sangat rentan dan relatable. Dia memerankan pria yang kesepian, penuh keraguan, dan sangat ingin dicintai—seseorang yang kita kenal atau bahkan pernah rasakan sendiri. Ekspresi wajahnya yang halus, suara yang lembut, dan gerakan yang penuh keraguan membuat penonton ikut merasakan perasaan jatuh cinta sekaligus takut kehilangan.
Samantha, yang hanya ada sebagai suara, menjadi salah satu karakter paling hidup dalam sejarah sinema. Suara yang hangat, cerdas, lucu, dan penuh empati membuat penonton lupa bahwa ia hanyalah AI. Evolusinya dari asisten yang patuh menjadi entitas yang punya keinginan sendiri terasa sangat alami dan menyentuh. Karakter pendukung seperti Catherine (mantan istri Theodore) dan Amy (teman Theodore) memberikan dimensi tambahan tentang bagaimana manusia menghadapi hubungan di era teknologi.
Tema yang Semakin Dekat dengan Realitas Saat Ini
Di balik cerita romansa, Her mengajukan pertanyaan besar tentang hubungan manusia di era digital. Apakah cinta bisa benar-benar ada antara manusia dan mesin? Apakah kita mencintai orang karena siapa mereka, atau karena apa yang mereka berikan kepada kita? Film ini juga menyentuh kesepian modern: teknologi yang seharusnya menghubungkan justru sering membuat kita semakin terisolasi.
Di awal 2026, ketika jutaan orang sudah menjalin hubungan emosional dengan chatbot, asisten suara, atau bahkan AI companion, tema ini terasa sangat menyakitkan sekaligus sangat akurat. Film ini tidak menghakimi—ia hanya menunjukkan bahwa manusia tetap membutuhkan koneksi, dan ketika koneksi itu datang dari sesuatu yang bukan manusia, pertanyaan tentang makna cinta menjadi semakin rumit.
Kesimpulan
Her adalah film yang berhasil menggabungkan romansa yang tulus, fiksi ilmiah yang ringan, dan refleksi filosofis yang dalam tanpa terasa berat. Ia tidak memberikan jawaban mudah tentang cinta atau teknologi—hanya meninggalkan penonton dengan perasaan campur aduk antara harapan dan kesedihan.
Di tahun 2026, ketika batas antara manusia dan AI semakin kabur, Her terasa seperti cermin yang jujur dan tidak nyaman. Ia mengingatkan bahwa meski teknologi bisa memberi kita suara yang hangat di malam hari, ia tidak bisa menggantikan kehangatan manusia yang penuh kekurangan. Film ini mungkin tidak sempurna, tapi justru ketulusan dan keberaniannya untuk bertanya tentang cinta di era mesin itulah yang membuatnya abadi.
Bagi siapa pun yang pernah merasa kesepian di tengah koneksi digital yang melimpah, Her tetap salah satu film paling menyentuh dan paling relevan yang pernah dibuat. Ia tidak sekadar tentang masa depan—ia tentang apa yang sudah mulai kita rasakan sekarang.



Post Comment