Review Film Geostorm

review-film-geostorm

Review Film Geostorm. Film Geostorm (2017) tetap menjadi salah satu film bencana paling ambisius dan penuh aksi dalam genre ini hingga tahun 2026. Cerita ini menggambarkan dunia yang menghadapi ancaman cuaca ekstrem akibat kegagalan sistem satelit pengendali iklim bernama Dutch Boy. Jake Lawson, seorang arsitek satelit yang dipecat, dipanggil kembali untuk memperbaiki sistem sebelum badai global menghancurkan seluruh planet. Dengan visual efek skala besar, rangkaian bencana yang spektakuler, dan taruhan hidup-mati seluruh umat manusia, film ini berhasil menghadirkan sensasi blockbuster klasik. Meski usianya sudah hampir satu dekade, Geostorm masih sering ditonton ulang karena kemampuannya menyatukan aksi tanpa henti dengan elemen drama keluarga dan konspirasi global. BERITA TERKINI

Plot yang Cepat dan Penuh Eskalasi: Review Film Geostorm

Alur cerita berjalan sangat cepat sejak menit pertama. Setelah beberapa tahun sukses mengendalikan cuaca ekstrem, Dutch Boy tiba-tiba mulai gagal: badai listrik menghantam Hong Kong, gelombang panas membakar Dubai, dan tornado membeku menyerang Tokyo. Jake Lawson, yang sebelumnya dipecat karena bersikeras pada standar keselamatan, dipanggil kembali oleh pemerintah Amerika untuk memperbaiki sistem dari stasiun luar angkasa.

Sementara Jake bekerja di orbit, saudaranya Max—yang juga terlibat dalam proyek—menemukan ada sabotase di balik kegagalan itu. Konflik pribadi antara dua bersaudara ini menjadi jantung emosional film, di samping ancaman global yang semakin besar. Ketika badai supercell terbesar mulai terbentuk, tim harus berpacu dengan waktu untuk menghentikan geostorm yang bisa menghapus seluruh kota-kota besar dari peta.

Film ini tidak membuang waktu untuk penjelasan panjang. Setiap adegan membawa eskalasi baru: dari kehancuran kota demi kota hingga pertarungan di luar angkasa. Narasi bergerak tanpa jeda, membuat penonton terus merasa terancam sepanjang durasi.

Visual Efek dan Adegan Bencana yang Spektakuler: Review Film Geostorm

Visual menjadi kekuatan utama yang membuat film ini bertahan. Adegan bencana dibuat dengan skala luar biasa: badai listrik yang membakar gedung pencakar langit di Hong Kong, gelombang panas yang melelehkan jalan di Dubai, atau tsunami es yang menghancurkan kota di Jepang. Efek CGI digunakan secara masif tapi cukup terkendali agar tidak terasa berlebihan—setiap bencana terasa nyata dan mengancam.

Bagian luar angkasa juga dieksekusi dengan baik: stasiun satelit yang mengorbit Bumi, kapsul penyelamatan yang berputar di tengah puing, dan pertarungan di vakum ruang angkasa terasa intens. Suara gemuruh badai, deru angin, dan ledakan listrik menciptakan ketegangan konstan. Musik latar yang dramatis membantu membangun rasa panik tanpa mengganggu.

Beberapa adegan ikonik seperti kota Rio de Janeiro yang disapu tsunami es atau upaya terakhir menyelamatkan Bumi dari stasiun luar angkasa tetap menjadi momen yang paling diingat dan sering dibicarakan.

Kelemahan dan Kekuatan yang Masih Relevan

Film ini memang punya kekurangan. Beberapa subplot konspirasi terasa terlalu sederhana dan klise, sementara karakter pendukung kurang berkembang. Akurasi ilmiah juga sangat longgar—pengendalian cuaca skala global seperti itu masih fiksi ilmiah murni. Namun dalam genre bencana, hal-hal seperti itu tidak terlalu mengganggu—penonton datang untuk sensasi, bukan kuliah fisika.

Kekuatan terbesar Geostorm terletak pada skala ambisinya dan kemampuannya menyatukan aksi luar angkasa dengan drama keluarga. Pesan tentang tanggung jawab manusia terhadap planet dan pentingnya kerja sama di saat krisis tersampaikan dengan cukup jelas. Di tahun 2026, ketika isu perubahan iklim dan cuaca ekstrem semakin sering menjadi berita utama, film ini terasa seperti pengingat visual yang mendebarkan sekaligus mengganggu tentang apa yang bisa terjadi jika kita tidak hati-hati.

Kesimpulan

Geostorm adalah film bencana yang sukses besar dalam menyajikan hiburan murni dengan skala global. Ia menggabungkan visual efek spektakuler, aksi tanpa henti, dan taruhan hidup-mati seluruh umat manusia menjadi pengalaman sinematik yang mendebarkan. Meski tidak sempurna dalam hal kedalaman cerita atau akurasi ilmiah, film ini unggul dalam satu hal—membuat penonton merasa benar-benar terancam oleh kekuatan alam dan teknologi yang tak terkendali. Di tahun 2026, ketika topik cuaca ekstrem semakin relevan, Geostorm tetap jadi tontonan wajib bagi siapa saja yang suka adrenalin tinggi dan kehancuran skala besar. Badai datang, kota-kota hancur, dan manusia berjuang—semua disajikan dengan cara yang langsung, besar, dan tak terlupakan.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment