Review Film Bioskop Preadtor: Badlands

Preadtor: Badlands

Review Film Bioskop Preadtor: Badlands. Predator: Badlands, film ketujuh franchise Predator yang rilis 7 November 2025, langsung jadi favorit akhir tahun berkat pendekatan segar dari sutradara Dan Trachtenberg—yang sukses dengan Prey. Kali ini, cerita fokus pada perspektif Predator muda outcast bernama Dek (Dimitrius Schuster-Koloamatangi) yang temukan sekutu tak terduga di Thia (Elle Fanning), android rusak dari Weyland-Yutani. Berlatar planet terpencil Genna penuh monster ganas, review film ini campur action brutal, buddy comedy aneh, dan elemen emosional soal family found. Durasi 107 menit, rating PG-13 pertama di franchise (bukan R seperti sebelumnya), bikin lebih accessible tapi tetap thrilling. Kritikus beri 85-90% fresh di Rotten Tomatoes, audience 96%—rekor tertinggi franchise. Ini bukan Predator biasa yang manusia vs alien, tapi inversion brilian yang bikin Yautja jadi hero relatable. Layak bioskop?

Plot dan Inovasi Cerita Tentang Preadtor: Badlands

Badlands buka di dunia Yautja, tunjukkin Dek—Predator kecil dan “lemah” menurut klan—yang di-bully dan dikirim hunt trophy ultimate untuk buktikan diri. Ia crash di Genna, planet death trap dengan flora-fauna ganas ala Avatar tapi lebih deadly. Di sana, ia temui Thia—android Weyland-Yutani yang torso doang (kaki hilang), babbling tapi pintar, lagi cari parts buat repair diri. Mereka unwilling ally: Dek butuh bantuan survive, Thia butuh escort ke tujuan. Journey mereka penuh fight monster baru, chase epik, dan momen lucu seperti Thia ajarin Dek “humanity” atau Dek carry Thia kayak backpack.

Trachtenberg expand lore Yautja: tunjukkin clan culture, ritual, dan bahkan “female Predator” hint di akhir. Tie-in Alien via Weyland-Yutani subtle, tanpa crossover paksa. Plot sederhana road-trip survival, tapi twist clever dan action inventive—dari fight power loader ala Aliens sampe flora carnivorous yang kreatif. Visual stunning: planet Genna hidup, efek praktis campur CGI bikin monster credible. Soundtrack Sarah Schachner dan Benjamin Wallfisch campur tribal beat dengan orchestral intense. Ini rollicking adventure yang fun, tapi tambah depth soal exile dan chosen family.

Performa Aktor Preadtor: Badlands dan Elemen Teknis

Elle Fanning steal show sebagai Thia: dari naive synth jadi fierce ally, ia bawa humor, intelligence, dan action jaw-dropping—scene detached legs fight ikonik. Dimitrius Schuster-Koloamatangi brilian di balik prosthetics berat: bikin Dek sympathetic, blunt tapi endearing—ekspresi mata-nya ungkap emosi tanpa dialog banyak. Chemistry mereka unlikely tapi work: buddy dynamic ala Lilo & Stitch versi violent, bikin penonton root buat “monster” ini. Supporting seperti Ravi Narayan dan Michael Homik tambah warna, tapi fokus utama duo ini.

Teknis top: cinematography Jeff Cutter tangkap vast landscape Genna indah tapi mengerikan, editing cepat bikin action frenetic tanpa confusing. Efek monster fresh, gore cukup buat PG-13 tapi satisfying. Humor oddball ngena, seperti Thia comment human consumption atau Dek’s bluntness. Tapi pacing kadang uneven: awal world-building lambat, tengah explode action.

Kesimpulan

Predator: Badlands adalah reinvention brilian franchise—ubah Predator dari brute jadi underdog hero, campur action thrilling dengan heart unexpected. Dengan Elle Fanning yang phenomenal, visual memukau, dan makna soal empathy lintas spesies, ini salah satu entri terbaik sejak original 1987—audience 96% bukti crowd-pleaser. Meski PG-13 kurangi primal gore dan pacing awal lambat, kekuatannya di inovasi dan fun pure. Skor 8/10: wajib bioskop buat fans sci-fi atau yang butuh blockbuster segar. Trachtenberg lagi-lagi selamatkan franchise—tunggu sequel, karena ending setup exciting future. Jangan lewatkan—ini hunt yang bikin lo cheer buat Predator!

Baca Selengkapnya Hanya di…

Post Comment