Review Film Lady Bird

review-film-lady-bird

Review Film Lady Bird. Film Lady Bird (2017) karya debut sutradara Greta Gerwig tetap menjadi salah satu coming-of-age paling dicintai dan sering dibahas ulang hingga 2026. Cerita semi-otobiografis tentang remaja pemberontak di Sacramento tahun 2002 ini raih lima nominasi Oscar termasuk Best Picture dan Director—prestasi langka untuk debut perempuan. Dibintangi Saoirse Ronan sebagai Christine “Lady Bird” McPherson dan Laurie Metcalf sebagai ibunya Marion, film ini campurkan humor tajam, emosi mendalam, dan kritik halus terhadap kelas sosial serta ekspektasi remaja. Di era di mana banyak anak muda bahas identitas diri dan hubungan ibu-anak, Lady Bird terus relevan sebagai potret jujur tentang masa transisi yang penuh konflik tapi penuh cinta. BERITA BASKET

Ringkasan Cerita dan Karakter Utama: Review Film Lady Bird

Cerita mengikuti tahun terakhir SMA Lady Bird, gadis yang benci nama baptisnya dan mimpi kabur dari Sacramento ke kota besar di Pantai Timur untuk kuliah. Ia sering bertengkar dengan ibunya Marion, perawat keras yang khawatir keuangan keluarga setelah ayahnya Larry kehilangan pekerjaan. Lady Bird coba temukan identitas lewat pertemanan: awalnya dekat Jenna yang kaya tapi palsu, lalu kembali ke Julie yang tulus. Percobaan cinta pertamanya dengan Danny yang ternyata gay, lalu Kyle yang cool tapi sinis, tambah kekacauan emosionalnya. Konflik keluarga jadi inti: Marion ingin Lady Bird realistis pilih kuliah terjangkau, sementara Lady Bird anggap itu pembatasan mimpi. Film tak pakai plot besar—hanya serangkaian momen sekolah, audisi teater, pesta, dan pertengkaran rumah tangga—tapi semua terasa hidup dan relatable. Ending di New York tunjukin Lady Bird akhirnya pahami akarnya, telepon ibu dengan nama asli “Christine”.

Tema Identitas dan Hubungan Ibu-Anak: Review Film Lady Bird

Lady Bird gali tema coming-of-age dengan fokus hubungan ibu-anak yang kompleks. Lady Bird dan Marion saling cinta tapi sering salah paham—Marion kasih nasihat keras karena takut anaknya kecewa, Lady Bird lihat itu sebagai kritik terus-menerus. Tema identitas terlihat dari Lady Bird yang ganti nama sendiri sebagai bentuk pemberontakan, tapi akhirnya terima bahwa Sacramento dan keluarganya bagian dari dirinya. Film kritik halus kelas sosial: keluarga McPherson kelas menengah bawah yang berjuang bayar sekolah Katolik, kontras teman kaya Lady Bird yang hidup mudah. Tema penerimaan diri muncul lewat persahabatan dan cinta pertama yang gagal—Lady Bird belajar bahwa jadi “diri sendiri” tak selalu mudah di dunia yang penuh ekspektasi. Gerwig hindari klise remaja dramatis—tak ada tragedi besar, hanya konflik sehari-hari yang terasa nyata dan menyakitkan tapi lucu.

Penampilan Aktor dan Gaya Sutradara

Saoirse Ronan beri performa luar biasa sebagai Lady Bird—penuh energi, pemberontak, tapi rapuh di balik sikap keras, bikin karakter mudah disukai meski egois kadang. Laurie Metcalf ikonik sebagai Marion: ibu yang tekanan tapi penuh kasih, adegan pertengkaran di toko gaun jadi salah satu momen paling emosional di film. Lucas Hedges dan Timothée Chalamet beri dukungan segar sebagai cinta pertama Lady Bird, sementara Tracy Letts hangat sebagai ayah yang depresi tapi suportif. Greta Gerwig sutradarai debutnya dengan gaya intim: shot Sacramento 2002 yang nostalgik—mobil tua, lagu Dave Matthews Band, seragam Katolik—tapi tak berlebih. Dialog tajam dan natural, humor datang dari momen awkward seperti audisi teater atau pesta remaja. Sinematografi Sam Levy tangkap keindahan biasa kota kecil, skor Jon Brion ringan tapi emosional. Editing cepat tapi beri ruang momen diam yang menyentuh.

Kesimpulan

Lady Bird tetap jadi coming-of-age masterpiece karena tangkap esensi masa remaja dengan kejujuran, humor, dan emosi yang seimbang. Di 2026, saat banyak anak muda dan orang tua bahas konflik generasi, film ini ingatkan bahwa pertengkaran ibu-anak sering lahir dari cinta yang terlalu dalam. Penampilan Ronan-Metcalf legendaris, gaya Gerwig segar tapi matang, dan tema identitas serta keluarga universal bikin film abadi sebagai potret Sacramento yang terasa seperti rumah bagi siapa saja. Bukan film dengan twist besar, tapi yang penuh momen kecil yang bikin tersenyum dan menangis. Layak ditonton ulang untuk ingat bahwa jadi “Lady Bird” atau Christine—keduanya bagian dari proses tumbuh dewasa. Film ini bukti bahwa cerita sederhana tentang remaja pemberontak bisa jadi salah satu yang paling relatable dan menyentuh di layar lebar.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment