Review Film Ash Is Purest White

review-film-ash-is-purest-white

Review Film Ash Is Purest White. Film Ash Is Purest White (2018), disutradarai Jia Zhangke, jadi salah satu karya paling personal dan epik dalam kariernya yang sudah legendaris. Dibintangi Zhao Tao sebagai Qiao dan Liao Fan sebagai Bin, cerita ini bentang lebih dari 17 tahun: dari era jianghu (dunia gangster) di Datong tahun 2001, penjara Qiao, hingga pencarian cinta di tengah perubahan Tiongkok modern. Film ini raih pujian internasional di festival Cannes dan jadi representasi sinema arthouse Tiongkok kontemporer. Di 2025, Ash Is Purest White masih sering dibahas sebagai potret mendalam tentang cinta, kesetiaan, dan transformasi sosial di negara yang berubah cepat. BERITA VOLI

Performa Zhao Tao dan Kedalaman Karakter: Review Film Ash Is Purest White

Zhao Tao, istri sekaligus muse Jia Zhangke, beri performa karier terbaik sebagai Qiao—wanita tangguh yang rela korbankan kebebasan demi lindungi kekasihnya. Dari gadis jianghu percaya diri di awal, jadi tahanan yang tabah, hingga wanita mandiri di akhir, transformasinya terasa nyata dan menyayat hati. Ekspresi diamnya, gerakan tubuh, dan tatapan mata sampaikan lebih banyak daripada dialog. Liao Fan sebagai Bin wakili pria macho yang runtuh saat tak lagi berkuasa—kontrasnya dengan Qiao beri dinamika cinta yang kompleks: kesetiaan satu arah yang perlahan pudar. Karakter pendukung seperti teman gangster atau penumpang UFO di akhir tambah nuansa kehidupan nyata yang absurd tapi relatable.

Gaya Naratif dan Potret Perubahan Tiongkok: Review Film Ash Is Purest White

Jia Zhangke pakai struktur long take dan kamera statis khasnya untuk tangkap waktu yang mengalir—film ini seperti dokumenter fiksi yang ikuti perjalanan Qiao melintasi Sungai Yangtze dan kota-kota industri yang mati. Dari disko 2001 dengan lagu YMCA, ke kereta cepat dan bendungan Three Gorges, visual tunjukkan Tiongkok yang hilang dan yang baru. Tema utama adalah “ash is purest white”—abu dari gunung berapi yang putih murni, simbol kesetiaan Qiao yang tetap meski dunia berubah. Adegan penjara, perjalanan kapal, dan pencarian Bin di Fengjie beri rasa melankolis tentang apa yang hilang: solidaritas jianghu, cinta sejati, dan identitas di era kapitalis.

Warisan dan Pengaruh Sinematik

Ash Is Purest White lanjutkan tradisi Jia Zhangke potret masyarakat Tiongkok pasca-reformasi—mirip karya sebelumnya tapi lebih personal dan emosional. Pengaruhnya terasa di film arthouse Asia kemudian yang campur genre gangster dengan drama sosial. Meski pacing lambat dan minimalis dialog bisa terasa berat bagi penonton kasual, justru itu beri ruang refleksi mendalam. Zhao Tao raih banyak nominasi aktris terbaik, sementara film ini jadi bukti sinema Tiongkok independen bisa bersaing global. Di era 2025, saat perubahan sosial makin cepat, pesan tentang kesetiaan di tengah kehancuran tetap relevan dan menyentuh.

Kesimpulan

Ash Is Purest White adalah drama epik yang indah sekaligus pahit—potret cinta tak berbalas dan Tiongkok yang berubah lewat mata seorang wanita tangguh. Jia Zhangke berhasil ubah cerita gangster jadi meditasi tentang waktu, pengorbanan, dan ketahanan manusia. Zhao Tao bawa film ini ke level masterpiece dengan akting yang luar biasa. Meski lambat dan melankolis, ini pengalaman sinematik yang dalam dan tak terlupakan—wajib bagi penggemar drama arthouse atau cerita karakter kuat. Di akhirnya, film ini ingatkan bahwa abu memang paling putih murni, dan kesetiaan Qiao adalah yang terindah di tengah dunia yang abu-abu. Rekomendasi tertinggi untuk tontonan reflektif yang meninggalkan jejak lama.

BACA SELENGKAPNYA DI..

Post Comment