Review Film Everything Everywhere All at Once: Multiverse Gila

Review Film Everything Everywhere All at Once: Multiverse Gila

Review Film Everything Everywhere All at Once: Multiverse Gila. Everything Everywhere All at Once (2022) karya Daniel Kwan dan Daniel Scheinert (dikenal sebagai Daniels) tetap jadi salah satu film paling liar, emosional, dan inovatif yang pernah keluar dari Hollywood. Hampir tiga tahun setelah rilis, film ini masih sering disebut sebagai puncak genre multiverse—sebelum tren itu kebanyakan jadi gimmick. Dengan Michelle Yeoh sebagai Evelyn Wang, seorang ibu imigran yang terjebak di multiverse gila, film ini menggabungkan aksi kung fu absurd, humor hitam, drama keluarga yang menyentuh, dan filosofi eksistensial dalam satu paket yang tak terduga. Multiverse di sini bukan cuma efek visual; itu alat untuk mengeksplorasi penyesalan, cinta, dan makna hidup. Hasilnya? Film yang bikin penonton tertawa, menangis, dan mikir keras sekaligus. ULAS FILM

Sinopsis dan Konsep Multiverse yang Benar-Benar Gila: Review Film Everything Everywhere All at Once: Multiverse Gila

Cerita dimulai dari Evelyn Wang, pemilik laundry kecil di Amerika yang sedang berjuang dengan pajak, bisnis yang sepi, dan hubungan retak dengan suami Waymond (Ke Huy Quan) serta anak perempuan Joy (Stephanie Hsu). Saat audit pajak di kantor IRS, tiba-tiba suaminya “lain” mengambil alih tubuh dan mengungkapkan bahwa multiverse sedang runtuh karena Jobu Tupaki—versi jahat dari Joy yang telah menciptakan “Everything Bagel”, lubang hitam eksistensial yang menyerap segala makna.
Evelyn harus melompat antar universe untuk mengumpulkan skill dari versi dirinya yang lain: chef kung fu, bintang film aksi, hingga tukang pijat dengan jari sosis. Setiap lompatan membawa adegan absurd—lawan tanding dengan hot dog fingers, pertarungan dengan pinjaman, atau bahkan universe di mana manusia punya batu sebagai kepala. Tapi di balik kegilaan itu, inti ceritanya sederhana: Evelyn belajar memaafkan diri sendiri, memperbaiki hubungan dengan keluarga, dan menemukan bahwa cinta bisa jadi kekuatan terbesar di tengah kekacauan multiverse.

Adegan Ikonik dan Produksi yang Luar Biasa Kreatif: Review Film Everything Everywhere All at Once: Multiverse Gila

Daniels tidak main-main soal visual dan aksi. Adegan pertarungan di lorong IRS dengan segala benda kantor jadi senjata, atau sequence “fanny pack” yang epik, semuanya dieksekusi dengan koreografi kung fu yang presisi tapi absurd. Michelle Yeoh melakukan hampir semua stunt sendiri—di usia 59 tahun—dan hasilnya memukau. Transisi antar universe dibuat mulus dengan editing cepat, efek praktis, dan CGI yang tepat guna, bukan berlebihan.
Ke Huy Quan kembali ke layar lebar setelah lama hiatus dan mencuri hati sebagai Waymond yang lembut tapi heroik. Stephanie Hsu sebagai Joy/Jobu Tupaki membawa energi chaotic dan emosi mentah yang dalam. Jamie Lee Curtis sebagai auditor Deirdre juga luar biasa—dari karakter kaku jadi salah satu momen paling lucu dan menyentuh. Skor Son Lux penuh synth aneh, string dramatis, dan elemen Asia yang menyatu sempurna, membuat setiap adegan terasa hidup dan gila.

Pesan Emosional di Tengah Kekacauan Multiverse

Yang bikin film ini beda adalah bagaimana multiverse digunakan untuk cerita yang sangat personal. Bukan tentang menyelamatkan dunia, tapi tentang menyelamatkan keluarga dan diri sendiri. Evelyn yang merasa gagal sebagai ibu dan istri akhirnya belajar bahwa “kegagalan” di satu universe bukan akhir segalanya—ada versi dirinya yang sukses, tapi juga yang lebih bahagia dengan pilihan sederhana. Pesan tentang penerimaan, belas kasih, dan bahwa “kindness is a choice” terasa tulus di tengah kekacauan hot dog dan batu.
Film ini juga jadi representasi kuat untuk imigran Asia, keluarga queer, dan generasi yang merasa tertekan. Adegan akhir di mana Evelyn dan Joy saling memeluk di depan Everything Bagel jadi salah satu momen paling kuat—menunjukkan bahwa di tengah kekosongan eksistensial, cinta keluarga bisa jadi jangkar.

Kesimpulan

Everything Everywhere All at Once adalah multiverse gila yang berhasil jadi salah satu film terbaik dekade ini. Daniels menciptakan sesuatu yang benar-benar orisinal: aksi absurd, humor liar, dan drama keluarga yang dalam, semuanya dibungkus dalam visual kreatif dan performa luar biasa dari Michelle Yeoh, Ke Huy Quan, Stephanie Hsu, serta Jamie Lee Curtis. Film ini memenangkan 7 Oscar termasuk Best Picture, Best Director, dan Best Actress—bukti bahwa cerita berani bisa menang besar.
Bagi yang belum nonton ulang, atau yang baru pertama kali, film ini adalah pengalaman yang tak tergantikan: bikin tertawa ngakak, nangis sesenggukan, dan mikir tentang hidup. Multiverse memang gila, tapi di tangan Daniels, itu jadi alat untuk menyampaikan pesan paling sederhana dan paling kuat: cinta dan kebaikan selalu menang, bahkan di tengah kekacauan tak terbatas. Ini bukan sekadar film—ini perjalanan emosional yang liar dan indah.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment