Review Film Qodrat 2: Santet & Aksi Paling Intens

review-film-qodrat-2-santet-aksi-paling-intens

Review Film Qodrat 2: Santet & Aksi Paling Intens. Qodrat 2 resmi tayang sejak akhir Desember 2025 dan langsung memuncaki daftar film Indonesia terlaris awal 2026. Sekuel dari Qodrat (2022) karya Charles Gozali ini membawa kembali Reza Rahadian sebagai Haji Qodrat dan Acha Septriasa sebagai Azizah, dengan tambahan konflik yang lebih besar: ancaman santet lintas generasi dan pertarungan melawan dukun yang jauh lebih kuat. Durasi 124 menit dengan rating 17+ berhasil menarik lebih dari 6,8 juta penonton di bioskop Indonesia hingga pertengahan Januari 2026, melampaui angka film pertama. Rating penonton di platform lokal rata-rata 4,7/5, sementara skor kritikus mencapai 7,9/10. Dengan adegan santet yang lebih mengerikan dan aksi fisik yang jauh lebih intens, banyak yang bilang ini horor aksi Indonesia paling kuat tahun ini. Pertanyaannya: apakah Qodrat 2 benar-benar naik level dalam hal santet dan aksi, atau hanya mengulang formula dengan tambahan gore? BERITA VOLI

Santet dan Visual yang Lebih Mengerikan di Film Qodrat 2: Review Film Qodrat 2: Santet & Aksi Paling Intens

Qodrat 2 naik level signifikan dalam penyajian santet dan elemen supranatural. Ritual-ritual di film ini terasa lebih detail dan autentik—penggunaan mantra Jawa kuno, benda ritual seperti jarum, rambut, dan darah, serta penampakan makhluk gaib dibuat dengan sangat menyeramkan. Adegan santet massal di desa terpencil menjadi salah satu sequence paling mencekam—korban mengalami gangguan fisik dan mental yang terlihat nyata, dengan efek makeup dan praktis yang sangat detail. Visual malam hari di desa terasa sangat gelap dan claustrophobic—kabut tebal, cahaya obor yang redup, dan suara angin yang bercampur mantra membuat penonton terus merinding. Musik dan sound design karya Ricky Lionardi menggunakan elemen gamelan dan suara ambient yang menghantui, memperkuat rasa takut yang menumpuk perlahan hingga meledak di babak akhir.

Performa Reza Rahadian dan Cast Utama Film Qodrat 2: Review Film Qodrat 2: Santet & Aksi Paling Intens

Reza Rahadian sebagai Haji Qodrat kembali memberikan penampilan yang sangat kuat—ia berhasil membawa karakter yang lebih dewasa, lebih bijak, tapi juga lebih rapuh karena trauma masa lalu. Saat ia menghadapi santet tingkat tinggi dan harus melindungi keluarganya, ekspresi wajah dan gerak tubuhnya terasa sangat nyata dan menyakitkan. Acha Septriasa sebagai Azizah juga tampil sangat baik—karakternya lebih kuat dan berani dibanding film pertama, tapi tetap punya rasa takut yang manusiawi. Chemistry keduanya terasa sangat alami sebagai pasangan suami istri yang saling melindungi. Cast pendukung seperti Muzakki Ramdhan sebagai anak mereka dan aktor baru sebagai dukun antagonis menambah kedalaman—mereka berhasil membuat penonton ikut merasakan ketakutan dan keputusasaan di tengah ancaman gaib.

Kelemahan Pacing dan Perbandingan dengan Film Pertama

Meski santet dan aksi sangat kuat, film ini punya kelemahan di babak tengah yang terasa agak lambat. Setelah pembukaan yang intens, beberapa adegan investigasi dan ritual terasa bertele-tele sebelum klimaks besar. Bagi penonton yang mencari horor cepat dan banyak jumpscare, bagian tengah bisa terasa kurang greget. Dibandingkan Qodrat pertama yang lebih fokus pada jumpscare dan kejutan, sekuel ini lebih lambat dan lebih berfokus pada psikologi karakter serta mitologi santet—bagi sebagian penggemar ini terasa lebih matang, tapi bagi yang ingin horor “seram cepat”, bisa terasa kurang memuaskan. Ada juga kritik kecil bahwa endingnya terlalu terbuka dan kurang memberikan penutupan yang jelas untuk trilogi.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton Indonesia menyambut sangat antusias—film ini laris di bioskop-bioskop besar, dengan banyak sesi malam yang penuh dan penonton yang keluar bioskop sambil berteriak atau saling cerita pengalaman. Box office domestik sudah melewati 6,8 juta penonton, menjadikannya salah satu film terlaris tahun ini. Di media sosial, klip adegan santet paling mengerikan dan momen akhir jadi viral meski banyak yang beri trigger warning. Film ini juga berhasil membuka diskusi besar soal mitologi santet Jawa, trauma keluarga, dan bagaimana horor Indonesia bisa naik kelas dengan cerita yang lebih dalam dan visual yang lebih matang. Banyak yang bilang ini bukti bahwa horor Indonesia tidak lagi hanya mengandalkan jumpscare, tapi mulai punya kedalaman narasi yang layak diperhitungkan di level regional.

Kesimpulan

Qodrat 2 adalah sekuel horor Indonesia yang berhasil naik level secara signifikan. Santet lebih mengerikan, aksi lebih intens, performa Reza Rahadian dan cast lebih solid, serta pesan sosial yang lebih dalam membuat film ini layak disebut salah satu horor lokal terbaik 2025. Meski pacing tengah agak lambat dan ending terbuka, film ini tetap jadi tontonan yang sangat menegangkan dan emosional. Worth it? Sangat—terutama kalau kamu penggemar horor lokal dan ingin melihat perkembangan genre ini. Kalau suka Pengabdi Setan, KKN di Desa Penari, atau Impetigore, ini wajib. Nonton kalau belum—siapkan mata dan jantung, karena horor Indonesia memang lagi naik level. Film ini membuktikan bahwa dengan cerita yang kuat dan eksekusi yang tepat, horor lokal bisa bersaing di level yang lebih tinggi. Layak dapat tempat spesial di daftar tontonan horor Indonesia 2025–2026.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment