Review Film Mufasa: Prekuel Lion King Penuh Emosi

review-film-mufasa-prekuel-lion-king-penuh-emosi

Review Film Mufasa: Prekuel Lion King Penuh Emosi. Film Mufasa: The Lion King yang tayang sejak Desember 2024 terus jadi pembicaraan hangat di awal 2026. Prekuel ini, disutradarai Barry Jenkins dan diproduksi Disney, mengisahkan masa muda Mufasa sebelum jadi raja Pride Lands. Dengan suara Aaron Pierre sebagai Mufasa muda, Kelvin Harrison Jr. sebagai Taka (Scar muda), serta John Kani kembali mengisi Rafiki, film ini bawa nuansa emosional yang lebih dalam dibanding The Lion King 2019. Box office global sudah tembus US$720 juta hingga Januari 2026, dan rating penonton di CinemaScore A serta Rotten Tomatoes 78% audience score tunjukkan film ini berhasil sentuh hati banyak orang. Cerita yang penuh emosi tentang persaudaraan, pengkhianatan, dan pencarian identitas jadi daya tarik utama. BERITA TERKINI

Kekuatan Narasi dan Emosi yang Dalam di Film Musafa: Review Film Mufasa: Prekuel Lion King Penuh Emosi

Barry Jenkins, yang terkenal dengan Moonlight dan If Beale Street Could Talk, bawa pendekatan sinematik yang berbeda. Film ini bukan sekadar cerita hewan lucu—ia eksplorasi tema dewasa seperti trauma masa kecil, rasa iri yang mematikan, dan bagaimana cinta bisa berubah jadi kebencian. Mufasa digambarkan sebagai anak yatim piatu yang diadopsi oleh keluarga singa kerajaan, sementara Taka (Scar) mulai tunjukkan sisi gelap karena merasa selalu di bayang-bayang saudaranya. Hubungan keduanya jadi inti emosional film. Ada momen-momen yang bikin penonton terharu, seperti saat Mufasa dan Taka berjanji saling jaga di masa kecil, hingga akhirnya pengkhianatan yang sudah kita tahu dari film asli. Voice acting Aaron Pierre dan Kelvin Harrison Jr. sangat kuat—Pierre bawa Mufasa yang hangat tapi tegas, Harrison beri nuansa rapuh dan gelisah pada Taka. Rafiki (John Kani) kembali jadi narator yang bijak, dengan tambahan cerita baru yang bikin prekuel ini terasa segar meski kita tahu endingnya.

Visual dan Musik yang Memukau di Film Musafa: Review Film Mufasa: Prekuel Lion King Penuh Emosi

Visual photoreal CGI dari Disney tetap jadi kekuatan utama. Lanskap Pride Lands dan wilayah sekitar dibuat sangat detail—dari rumput yang bergoyang hingga air terjun yang mengalir. Adegan-adegan dramatis seperti badai dan pertarungan singa terasa hidup dan megah. Krypto (anjing liar yang jadi sahabat Mufasa muda) jadi elemen baru yang lucu dan menyentuh, mirip hubungan Simba dan Nala di film asli. Musiknya juga spesial. Lin-Manuel Miranda kembali garap lagu baru, termasuk balada emosional “I Always Knew” yang dinyanyikan Aaron Pierre—lagu ini sudah viral di TikTok dan Spotify. Skor Hans Zimmer tetap epik, dengan sentuhan Afrika yang lebih kental berkat kolaborasi dengan komposer lokal. Beberapa lagu klasik seperti “Circle of Life” dan “I Just Can’t Wait to Be King” muncul dalam versi baru yang lebih intim, bikin nostalgia tapi tak terasa dipaksakan.

Kelemahan dan Kritik

Meski emosional dan visualnya kuat, film ini punya kelemahan di pacing. Babak tengah terasa agak lambat karena terlalu banyak flashback dan pengenalan karakter pendukung seperti Sarabi muda dan Zazu. Beberapa penonton merasa cerita terlalu predictable karena kita sudah tahu nasib Mufasa dan Scar dari film asli. Ada juga kritik bahwa film ini terlalu serius untuk anak kecil—tone emosionalnya lebih cocok remaja dan dewasa. Durasi 1 jam 58 menit terasa pas, tapi endingnya agak terburu-buru dalam setup konflik besar. Beberapa fans bilang ini lebih mirip drama keluarga daripada petualangan ringan seperti The Lion King 1994.

Respon Penonton dan Dampak

Penonton umum suka banget dengan emosi dan visualnya—banyak yang nangis di bioskop, terutama saat adegan persaudaraan Mufasa-Taka. Di Indonesia, film ini laris di bioskop-bioskop besar dan dapat rating tinggi dari keluarga yang nonton bareng. Box office US$720 juta (dengan budget US$200 juta) tunjukkan sukses komersial, meski tak sebesar The Lion King 2019. Di media sosial, klip lagu “I Always Knew” dan adegan Mufasa muda jadi viral. Secara keseluruhan, Mufasa: The Lion King berhasil jadi prekuel yang punya hati—bukan cuma fanservice, tapi cerita mandiri yang menyentuh tentang keluarga, pengkhianatan, dan warisan. Ini bukti Disney masih bisa bikin film emosional yang kuat di era photoreal CGI.

Kesimpulan

Mufasa: The Lion King 2025 adalah prekuel yang penuh emosi dan berhasil bikin penonton terharu. Barry Jenkins bawa tone yang lebih dalam dan dewasa tanpa kehilangan keajaiban Lion King. Visual memukau, musik menyentuh, dan performa voice acting kuat jadi kekuatan utama. Meski pacing tengah agak lambat dan cerita predictable, film ini tetap jadi tontonan yang layak—terutama buat yang suka drama keluarga dengan sentuhan epik. Reboot DC mungkin lagi cerah, tapi prekuel Lion King ini tunjukkan Disney masih jagonya bikin cerita emosional yang timeless. Kalau belum nonton, siapkan tisu—film ini bakal bikin mata basah. Mufasa layak dapat tempat di hati penggemar Lion King lama dan baru.

BACA SELENGKAPNYA DI…

Post Comment